Transkrip Wawancara Skripsi

LAMPIRAN 1 PEDOMAN WAWANCARA PEDOMAN WAWANCARA PENELITIAN SKRIPSI STRATEGI OBYEK WISATA HUTAN KOTA MAYASIH DI KELURAHAN CIGUGUR KECAMATAN CIGUGUR KABUPATEN KUNINGAN LAMPIRAN 2 TRANSKRIP WAWANCARA 1. Informan : Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan Identitas NarasumberSelanjutnya yang kedua adalah contoh transkrip wawancara dalam melakukan penelitian kualitatif transkrip wawancara ini sangat dibutuhkan mengingat berbagai hal yang kita dapatkan dalam penelitian harus tertulis sebagaimana mestinya sehingga bisa dipertanggungjawabkan ketika sidang skripsi dan tesis selain itu untuk melengkapi transkrip wawancara ini bisa juga ditambahkan dengan rekaman.Transkrip Wawancara Contoh proposal skripsi manajemen pemasaran proposal skripsi menganalisa faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli helm merek gv oleh. Contoh transkrip wawancara skripsi. Contoh instrumen observasi dan transkrip wawancara skripsi dan tesis dalam melakukan penelitian skripsi atau tesis maka dibutuhkan yang∴ Jasa Transkrip - Transcript Service [Rp. 4000/menit] by SarjanaTranskrip ∴ Sosiologis.com bekerjasama dengan SarjanaTranskrip menyediakan layanan jasa transkrip wawancara berbahasa Indonesia. SarjanaTranskrip mentranskrip rekaman hasil wawancara skripsi, tesis, disertasi dan penelitian lainnya dengan hasil berkualitas dan kerahasiaan file terjamin.Cara Wawancara Skripsi - Sebuah esai atau tesis yang mengutip orang lain harus dikutip. Contoh skripsi penelitian kualitatif pdf contoh teknik wawancara contoh transkrip wawancara mendalam contoh wawancara singkat tentang kesehatan contoh wawancara tertutup. Contoh isi wawancara skripsi kualitatif jenis penelitian studi kasus.

Contoh Lampiran Wawancara Skripsi Kualitatif - Pejuang Skripsi

Contoh format pedoman wawancara penelitian skripsi by ase satria skripsi contoh format pedoman wawancara penelitian skripsi adalah pokok pembahasan materi skripsi dan tugas akhir yang akan dijelaskan dengan lengkap dan detail pada materi belajar berikut ini.TRANSKRIP WAWANCARA SKRIPSI Narasumber : Shalomita Dani Umur : 16 Tahun Durasi wawancara : 38 menit 4 detik Pertanyaan: Deskripsi diri? Jawaban: Menurut orang lain dan saya sendiri. Humble, sksd maksudnya bisa beradaptasi dimanapun, kadang egois, dan pendengar yang baik. Pertanyaan :Contoh instrumen observasi dan transkrip wawancara skripsi dan tesis; cara print booklet di office word 2016 Epson L360; cara print format buku di microsoft word; Berikut tanggal Hari Guru Nasional dan Sejarahnya; cara membuat sistematika pembahasan skripsi tesis; contoh penulisan abstrak skripsi tesis yang baik; KONSTRUK APRESIASI SASTRAContoh instrumen observasi dan transkrip wawancara skripsi dan tesis dalam melakukan penelitian skripsi atau tesis maka dibutuhkan yang namanya pedoman penelitian atau instrumen observasi yang nantinya adalah menjadi pegangan kita dalam melakukan penelitian sehingga ketika kita akan terkontrol dan tidak keluar jalur dan hasil penelitian pun

Contoh Lampiran Wawancara Skripsi Kualitatif - Pejuang Skripsi

Contoh Transkrip Wawancara Skripsi | Contoh Soal Dan

Nvivo pada mulanya dikembangkan pada tahun 1981 oleh programer Tom Richards dengan nama Non-Numerical Unstructured Data Indexing Searching and Theorizing (NUD‟IST). Sejak tahun 2002, NUD‟IST diganti dengan Nvivo. „N‟ adalah singkatan dari NUD‟IST dan „Vivo‟ diambil dari „in-vivo‟ yang berarti melakukan koding berdasarkan data yang hidup (nyata) dialami partisipan di lapangan.Contoh Transkrip Wawancara Skripsi Contoh Soal Dan Materi Pelajaran 8. Pedoman Wawancara. Riset. Pertanyaan Wawancara Skripsi Kualitatif - Adapun pada pembahasan berikut ini yang membahas mengenai pedoman wawancara penelitian didalam belajar menyusun bagian bagian skripsi yang akan diuraikan yakni sebagai berikut. Lazimnya untuk pertanyaanwawancara mendalam dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, wawancara sebagai strategi utama dalam mengumpulkan data. Pada konteks ini, catatan data lapangan yang diperoleh berupa transkrip wawancara. Kedua, wawancara sebagai strategi penunjang teknik lain dalam mengumpulkan data, seperti observasi partisipan, analisis dokumen, dan fotografi.Transkrip Wawancara Contoh proposal skripsi manajemen pemasaran proposal skripsi menganalisa faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli helm merek gv oleh. Contoh transkrip wawancara skripsi. Contoh instrumen observasi dan transkrip wawancara skripsi dan tesis dalam melakukan penelitian skripsi atau tesis maka dibutuhkan yangTRANSKRIP WAWANCARA Hari/ Tanggal : Rabu, 26 April 2017 Waktu : 09.00 WIB Lokasi : Kantor Pusat BPRS PNM Binama Semarang Nama Narasumber : Mbak Ratih Jabatan : SPO (Sekretariat, Personalia, dan Organisasi) Keterangan P: Pewawancara N: Narasumber P : Assalamu'alaikum, Selamat pagi mbak? N : Waalaikumsalam, Selamat pagi juga dik.

Cara Melakukan Shooting Dalam Bola Basket Tertib Acara Natal Cara Flash Asus Z00rd Via Sd Card Cara Setting Modem Zte F609 Ke Mikrotik Cara Mengatasi Hp Cepat Panas Dan Batre Cepat Habis Cara Buat Serundeng Daging Amatilah Gambar Berikut Gerak Di Atas Merupakan Teknik Menerima Tongkat Estafet Dengan Cara Cara Menaikan Kecepatan Speedy Tanpa Merubah Paket Cara Bermain Snooker Dakwah Secara Terang Terangan Cara Menangkap Bola Dalam Permainan Bola Basket

CONTOH TRANSKRIP WAWANCARA | VARIYAKA Blog

Berikut ini akan dikemukakan Contoh dalam menulis Transkrip Hasil Penelitian, Metode Penelitian Kualitatif. Setidaknya dapat menjadi pedoman dan Rujukan bagi mahasiswa yang sedang dan akan menulis Skripsi dengan Pendekatan Kualitatif. Pesan Untuk Mahasiswa : Jangan pernah berhenti untuk belajar dan mencari sumber, buku dan referensi lain, agar dirimu menjadi Insan Terpelajar. (Salam Sukses, @TM)

CONTOH ; CARA MENULIS TRANSKRIP HASIL WAWANCARA JUDUL PENELITIAN ; “SURVEY POSYANDU PLUS DI KABUPATEN ACEH TIMUR, PENDEKATAN KUALITATIF” (Peneliti : TM. Jamil, dkk)

[embedded content]

Transkrip Hasil Wawancara di Aceh Timur FGD dengan Dinas terkait Aceh Timur, tanggal — Agustus—-

Investigasi dan evaluasi Posyandu yang dibangun oleh Unicef dan Posyandu yang dibangun dan dibina oleh masyarakat dilaksanakan di Aceh Timur. Tim kualitatif yang berjumlah 8 orang mengadakan survey singkat ke wilayah Timur, diantaranya mengadakan FGD dengan, Kepala Dinas terkait di Aceh Timur, FGD dengan unsur terkait di Kecamatan Idi Rayeuk , dan Julok. Sedangkan FGD di Tingkat di desa diadakan di Desa Jambo Labu Kecamatan Birem, Bayeun Aceh Timur. Sedangkan wawancara secara mendalam dilakukan terhadap masyarakat, Tanjong Kapai, Idi Rayeuk, Masyarakat Julok Tunong.

Kegiatan pertama dilakukan oleh Tim Kualitatif adalah mengadakan FGD di Tingkat Kabupaten Aceh Timur, di Idi, Ibukota Kabupaten Aceh Timur. Untuk mengetahui lebih lanjut hasil audiensi dengan kepala dinas terkait sebagai berikut;

Suasana FGD yang telah dipersiapkan sedemikian rupa di Aceh Timur dikoordinasikan oleh Kepala BPM Aceh Timur. Kepala BPM sebagai penanggung jawab terhadap Program pemberdayaan posyandu memanggil unsur terkait diantaranya yang hadir adalah kepala Dinas kesehatan, Ketua PKK, Departemen Agama, yang mewakili Dinas Pendidikan, yang mewakili dinas Sosial dan lainnya. FGD berlangsung harmonis diantaranya adalah dimulai dengan Presentasi oleh TIM kuantitatif.

[embedded content]

Sehubungan dengan kegiatan Posyandu dituturkan oleh ketua penggerak PKK Aceh Timur dapat dibaca berikut ini.

Ketua Penggerak PKK Aceh Timur, Ibu Ismi, yang aktif semenjak orde baru sangat konsisten dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan Posyandu. Ia menyebutkan untuk menggerakkan Ponsyandu saat ini berbeda dengan sebelumnya, di antaranya adalah jika dulu langsung dikomandokan oleh Ibu para Pimpinan. Namun demikian Posyandu saat ini berjalan seperti yang diharapkan. Namun yang disayangkan adalah masalah pendanaan yang sangat sedikit bagi kader dan kurangnya koordinasi di antara unsur terkait. Sehingga semangat kader untuk berpartisipasi pada Posyandu agak menurun. Walupun di beberapa tempat kegiatan Posyandu berjalan seperti biasanya.

Pada suasana yang sangat menyenangkan dan sangat kocak serta bersahabat, walaupun dalam suasana puasa diutarakan oleh Ibu Cut, yang mewakili Dinas Sosial, dapat ditelusuri berikut ini.

Ibu Cut yang lulusan sekretaris atau PDPK Unsyiah sambil bersoloro ia berkisah. Posyandu saat ini dianggap berjalan sehingga perhatian unicef terhadap Posyandu di Aceh berjalan dan bahkan bangunannya-pun lebih baik. Akan tetapi Unicef dalam memberi bantuan umumnya adalah produk luar sehingga tidak cocok dengan Indonesia.

[embedded content]

Misalnya, ia menyebutkan sambil tersenyum misalnya adalah Kondom yang dibagikan kepada kami katanya terlalu besar. Kondom tersebut lebih cocok dengan orang Barat atau orang Eropa. Ibu Cut yang Lucu dan terlihat serius menyebutkan di desa saat ini perlu adanya pelayanan dan penanggan terhadap orang tua (Manula) dan anak-anak terlantar.

Sedangkan yang berhubungan dengan kesehatan diucapkan oleh yang mewakili Dinas Kesehatan sebagai berikut:

Obat-obatan yang dibagikan kepada masyarakat saat ini juga banyak produk dari luar sehingga kadang-kadang takut memberikan kepada masyarakat selain tidak tahu khasiatnyanya, karena petunjuk dalam bahasa Inggris. Di samping itu menurutnya pembagian obat juga sering dua bulan lagi menjelang kadaluarsa.

Ia juga menyinggung tentang letak geografis salah satu Posyandu yang dibangung jauh sedikit dengan rumah penduduk. Ia mengisahkan, rumah penduduk di Pante Labu, Kecamatan Pantee Bidari, terletak diantara penduduk. Penduduk di desa tersebut, memang satu desa dua wilayah yang ada penduduk. Sedangkan di tengahnya tidak ada penduduk. Dan Posyandu di bangun antara di tempat di mana penduduk berdiam.

Di tengah itulah dibangun Posyandu. Menurut Kepala Dinas kesehatan yang lebih penting lagi adalah Bidan yang ditugaskan ke desa untuk sekarang tidak cukup lagi dengan lulusan D1.Akan tetapi minimal adalah lulusan D3, guna mereka bekerja secara profesional. Kepala Dinas Kesehatan menyebutkan pemahaman para dinas terkait juga masih lemah. Dalam kesempatan tersebut juga diucapkan oleh Pak Zamhir yang mewakili dinas pengairan. Zamhir mengutarakan sebagai berikut :

Posyandu saat ini terutama di Tanjong Kapai berjalan seadanya. Desa Tanjong Kapai sebagai salah satu Desa yang dulunya dilanda konflik. Suasana di Desa Tanjong Kapai Kecamatan Idi Rayeuk saat ini sudah kondusif. Namun suasana kriminal masih terjadi misalnya keamanan desa tersebut masih perlu ditingkatkan oleh masyarakat, sehingga bidan enggan untuk tinggal di desa tanjong Kapai. Masih menurut Zamhir, aparat Desa belum memahami benar tentang manfaat Posyandu. Dalam hal ini terlihat menurutnya adalah kurangnya sosialisasi bagi masyarakat dan para petinggi di tingkat Kabupaten.

[embedded content]

Suasana FGD berlangsung Khitmat, Namun menurut Kepala BPM, Pak Jamaluddin menyebutkan sampai saat ini kegiatan pemberdayaan masyarakat masih terjadi kendala di sana sini, terutama masalah dana. Namun ia menyebutkan kegiatan pemberdayaan masyarakat berjalan sesuai yang dicanangkan. Jika ditelusuri secara mendalam kegiatan Posyandu saat ini di Aceh Timur berjalan sebagaimana yang diharapkan. Kegiatan masih berjalan, walaupun masih mempunyai kendala. Informasi yang didapatkan pada FGD terlihat antara dinas terkait saling melemparkan tanggung jawab. Dan koordinasi antara dinas masih lemah. Dan pemerintah, terutama Bupati tidak lebih serius daripapa Bupati sebelumnya.

Fenomena tersebut juga terlihat dari amatan antara kepala Dinas dengan para perancang Dana. Banyak program yang diajukan oleh kepala Dinas kadang-kadang tidak disetujui oleh Bapeda, sehingga program yang diajukan oleh Dinas tidak dialokasikan dana. Pada pembicaraan dengan dinas terkait dan tokoh masyarakat menunjukkan lemahnya koordinasi dan kurangnya pemahaman mereka terhadap Posyandu sehingga saling melemparkan tanggung jawab.

Wawancara mendalam di desa Tanjong Kapai, Idi Rayeuk. Tanjong Kapai Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur merupakan salah satu desa bekas konflik. Desa ini tergolong tertinggal dan letaknya di dekan Pantai. Desa Tanjong Kapai merupakan desa yang dipilih oleh Unicef untuk menjadi salah satu Posyandu Plus guna dibina sebagaimana ketentuan yang berlaku. Dalam suatu wawancara dengan Kepala desa di Rumahnya di desa Tanjong Kapai tanggal 26 Agustus —- sebagai berikut:

Geusyik Tanjong Kapai sebagai pelaksana Tugas sementara, menyebutkan : Posyandu yang dibina oleh Unicef berjalan lancar. Namun demikian Bidan desa yang ingin  tinggal di Posyandu terjadi kemalingan beberapa aset milik Bidan. Bidan sebenarnya sudah lama tinggal di Desa Tanjong kapai. Namun ada satu orang yang boleh dikatakan tidak senang terhadap bidan sehingga kemalingan. Pak Geusyik berjanji utuk masa datang akan menjamin terhadap keberadaan bidan.

Karena masyarakat sangat membutuhkan pertolongan bidan. Saat ini menurut Pak Geusyik setelah mengusulkan kepada pihak Kecamataan untuk menugaskan bidan yang lain di desa Tanjong Kapai. Karena masyarakat sangat mengharapkan keberadaaan bidan di desa tersebut. Menurut Pak Geusyik Posyandu Plus saat ini sudah berjalan bahkan ada anak-anak tentangga desa yang membawa anaknya kepada Posyandu Plus. Namun, karena bidan saat ini tidak ada maka terjadi kendala.

[embedded content]

Untuk lebih lengkap informasi kami dapat mewancarai seorang warga ibu muda, Nuraini. Menurut pangakuan salah seorang warga di desa tanjong Kapai, Nuraini menyebutkan: Nuraini sambil mengendong anaknya, menuturkan Bidan Fitrianti adalah seorang bidan yang sangat bersahabat dengan orang kampung.

Bidan tersebut sangat senang menolong orang desa. Apa hendak di kata saat ini seorangpun bidan tidak ada lagi setelah kepergian bidan Fitrianti tersebut. Bidan Fitrianti sebenarnya sangat dekat dengan orang kampung apalagi ia kawin dengan orang kampung tersebut. Saat ini bidan tersebut tidak mau tinggal di desa tersebut akibat kemalingan. Nuraini sangat menyesalkan akibat seorang yang tidak senang terhadap bidan sehingga merugikan orang lain.

Di samping itu Tim kualitatif mencoba menelpon Bidan Fitrianti tersebut. Namun setelah di telpon ia sedang ikut ujian di Langsa. Akan tetapi, tim Kami mendapat informasi lain mengenai Bidan Fitrianti. Salah satu penyebab ia tidak lagi mau tinggal di Posyandu akibat tidak nyaman, karena ada pencurian terhadap barang-barang yang ia tempatkan menjelang ia tinggal di Posyandu tersebut : adapun yang kemalingan di antaranya adalah Kompor Gas, tabung gas, Dispencer Rice dan buku-buku unicef.

[embedded content]

Hasil penelusuran tim terlihat bahwa adanya Posyandu di Tanjong Kapai adalah berkat adanya Bidan tersebut. Karena bidan tersebut sudah sangat lama tinggal di Desa tersebut dan ia juga kawin dengan putra desa tersebut. Maka informasi adanya Posyandu erat kaitannya dengan informasi, bantuan dari Camat dan dijembatani oleh Bidan desa.

Transkrip wawancara di desa Julok Tunong, Julok, Aceh Timur. Pak Ali salah seorang petugas Kantor Camat sangat senang ketika kedatangan Kami. Pak Ali lah yang memberitahukan kepada masyarakat Julok Tunong, bahwa kami akan datang. Kami dari Tim kualitatif 8 orang terbagi 2 Group satu untuk servey Posyandu Plus dan 1 lagi untuk mengunjung Posyandu binaan masyarakat. Begitu kedatangan Kami langsung di sambut oleh Pak Geusyik, sekretaris dan beberap orang perempuan.

Namun demikian beberapa saat langsung banyak orang di antaranya Bidan, kader dan orang yang lainnya yang berkaitan dengan Posyandu. Begitu datang ke Posyandu, kami melihat Posyandu yang dibangun oleh Unicef tertata rapi, bersih dan nyaman sekali. Untuk lebih jelasnya berikut ini penuturan dari Pak Geusyik, M. Yunus sebagai berikut:

Pak Geusyik Julok Tunong Kuta Binjai sebelumnya adalah ketua Pemuda desa setempat. Ia sebagai Geusyik saat ini sangat berterima kasih kepada Pemerintah dan Unicef. Pak Geusyik sebagai orang muda mengisahkan, Posyandu di desanya sebenarnya sudah lama ada. Dan setelah tsunami ada suvey dari unicef untuk membangun gedung Posyandu.

Lantas ia bermusyarah dengan masyarakat untuk lokasi bangunan Piosyandu. Dan masyarakatpun sangat antusias untuk menerima bangunan tersebut, sehingga Meunasah digeser guna dapat dibangun Posyandu Plus. Wawancara kami berlangsung santai diantaranya adanya Pak Imam, Tokoh Masyarakat dan Tuha Peut. Pak Geusyik M. Yunus menyebutkan salah satu keberhasilan Posyandu tidak terlepas dengan bidan desa setempat. Bidan Desa tersebut merupakan penduduk setempat. Ia sangat senang bekerja di desanya.

Apalagi rumah bidan tersebut bersebelahan dengan Posyandu. Namun demikian kendalanya sekang menurut pak geusyik adalah listrik tidak ada yang menanggung biaya. Dan saat ini airnya yang tidak bagus dan kuning, sehingga air di Posyandu tidak layak untuk dikonsumsi dan digunakan untuk membersihkan luka orang sakit. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Posyandu Plus diutarakan oleh Pak Imam Julok Tunong sebagai berikut :

[embedded content]

Pak Imam, Abdussamad, yang datang lima menit kemudian menyebutkan Posyandu di desa julok Tunong sebenarnya dulunya biasa saja. Dan Imunisasi berlangsung di bawah Meunasah. Akan tetapi setelah gedung Posyandu baru dibangun oleh Unicef, maka spirit masyarakat bertambah kuat. Karena sudah adanya gudung. Saat ini Posyandu kami sudah boleh dikatakan Plus, karena adanya PAUD. Menurut Pak Imam,  PAUD saat ini dikelola oleh masyarakat setempat, berdasarkan swadaya masyarakat alakadarnya.

Sedangkan TPA juga berjalan sebagai mana yang diharapkan. TPA walaupun tidak ada Posyandu juga berjalan berdasarkan swadaya masyarakat. Di samping itu pengajian orang tua bagi perempuan diadakan pada hari kamis. Sedangkan untuk kaum pria diadakan pada malam kamis. Ketika disinggung mengenai pendanaan utuk guru, maka Pak Imam meunyebutkan secara meuripee (berdsarkan sumbangan masyarakat seikhlasnya).

Maka program TPA dan pengajian berjalan sebagaimana di harapkan. Sugguh luar biasa peranserta masyarakat di wilayah ini. Ketika ditanya tentang keamanan di desa disebutkan oleh Pak Geusyik mengatakan sangat aman, baik waktu konflik maupun waktu saat ini. Menurut pak geusyik boleh jadi orang yang tinggal di desa tersebut sederhana dan berpendidikan. Namun mata pencaharian penduduk banyak yang petani baik sawah ataupun lainnya.

[embedded content]

Di samping itu seorang Tokoh masyarakat, Bakhtiar 50 tahun, menjelaskan : Bakhtiar sebagai tokoh masyarakat, dan ia sebagai pedagang menjelaskan PAUD saat ini berjalan seadanya. Banyak orang tua menaruh perhatian terhadap PAUD tersebut sehingga PAUD berjalan. Dan orang tuapun mau memberikan uang sekitar 10 ribu satu bulan untuk para guru.

Akan tetapi saat ini adalah tidak ada sarana, misalnya alat peraga, dan mainan anak-anak. Sambil tertawa Bakhtiar maunya Unicef juga mau membantu mainan untuk PAUD di desa Julok Tunong. Dalam pertemuan tersebut juga dihadiri oleh unsur Tuha Peut, H. Hasballah, 60 tahun. Hasballah menyebutkan kesadaran masyarakat saat ini dirasakan bagus, dan bersatu dalam membangun.

Menurut Pak Hasballah ada beberapa alat Posyandu belum dikirim. Dan ia menyebutkan dana ADG belum ada untuk desa tersebut untuk dialokasikan kepada Posyandu. Dalam wawancara tersebut ia mengharapkan kesinambungan program Posyandu Plus di desa Julok Tunong, guna masyarakat dapat menikmati pembangunan, baik yang diberikan oleh Pemerintah maupun oleh Unicef. Desa Julok Tunong, Kecamatan Julok berpenduduk 1192 jiwa.

[embedded content]

Petani 77 %. Pegawai 1 %. Pedagang 2 %. Dan lain-lainya, 20 %. Fenomena di lapangan menyebutkan pemahaman para petinggi desa Julok Tunong terhadap Posyandu dan Posyandu Plus sangat terasa bagus. Gejala tersebut selain para aparat desa sangat memahami terhadap program posyandu tersebut. Dan koordinasi antara perangkat desa sangat bagus termasuk dengan para petinggi di tingkat Kecamatan. Di samping itu semangat masyarakat untuk membangun sangat kuat, sehingga jika tidak adanya bangunan Unicefpun mereka sudah melakukan apa yang dikatakan dengan Posyandu Plus. Namun gedung yang tidak ada.

FGD di Desa Jambo Labu, Birem Bayeun, Aceh Timur. Desa Jambo Labu sebelumnya adalah termasuk dalam wilayah hukum Kecamatan Langsa. Akan tetapi setelah pemekaran, desa tersebut masuk dalam wilayah Kecamatan Birem Bayeun. Desa Jambo Labu, merupakan desa yang berpenduduk orang Jawa. Perjalanan menuju desa Jambo Labu menempuh perjalanan melelahkan apalagi dalam bulan puasa. Jalan menuju desa Jambo Labu selain berliku-liku terjal, berbukit-bukit.

Apabila musim kemarau jalan berdebu. Apbila musim hujan jalan bejek. Masyarakat Jambo labu umumnya mereka petani sawit, dan petani karet. Tim kualitatif mengadakan FGD di desa Jambo Labu, berdasarkan petunjuk dari Tim Kuantitatif. Kami berangkat dari Langsa pukul 9 dan sampai di Jambo Labu pukul 11.00 Wib.  Beberapa saat kami tiba langsung dimulai FGD.

Setelah Tim memperkenalkan anggotanya kepada Pak Geusyik, dan tokoh masyarakat, maka kami terus berdiskusi dan berdialog dengan masyarakat setempat. Posyandu yang dibangun oleh Unicef terlihat bersih, karena bidan sudah tinggal di Posyandu tersebut. Dan masyarakatnya terkesan malu, hormat dan agak acuh.

Tim kualitatif mencoba menyapa dengan bahasa Jawa, mereka sangat senang. Dan supervisor memperkenalkan Pak TM…, Koordinator Tim sebagai orang Jawa,  karena ia pernah kuliah dan melanjutkan studi di Jawa. Setelah itu, warga masyarakat dan  mereka sangat senang, bahkan memeluknya dan berlomba-lomba untuk bersalaman dengan Pak TM yang dianggap sebagai keluarganya sendiri. Masyaa Allah…. Dan salah seorang di antara mereka mengatakan Pak TM itu orang jawa yang sudah bisa berbahasa Aceh 🙂 Apabila tegur sapa dengan bahasa Jawa ia sangat senang. Sepintas terlihat rumah, mereka, bahasa mereka dan gaya hidup masyarakat Jambo Labu seperti layaknya di desa di Jawa.

[embedded content]

Berikut ini rekaman singkat FGD di Jambo Labo, Birem Rayeuk, Aceh Timur: Bidan desa yang sudah lama tingal di desa Jambo Labu, bersuamikan seorang Guru yang bertugas di Jambo Labu sudah lebih 10 tahun yang lalu. Ia sangat senang tinggal di desa tersebut. Keadaan kesahatan masyarakat menurut Bidan saat ini semakin baik. Dan setelah adanya bidan di desa tersebut anak mereka semakin berkurang. Kalau dulu anak-anak mereka banyak sekali ada yang sampai sepuluh orang. Orang tua dulu disini banyak sekali anaknya. Sehubungan dengan hal tersebut Pak. Geusyik juga menyebutkan ia mempunyai anak 10 orang. Namun demikian saat ini mereka sudah sedikit anaknya. Masyarakat Jambo Labu yang bernuansa tradisi dan budaya Jawa tersebut sangat terlihat, nyaman, santun, karena umumnya sebagai orang yang rajin. Posyandu yang di Plus di desa Jambo Labu terlihat belum dapat dikatakan Plus, karena kegiatan yang ada adalah masaalah kesehatan. Sedangkan PAUD dan TPA belum ada.

Fenomena menunjukkan mereka sepertinya jika tidak ada yang mengkoordinir tidak siap dengan kegiatan PAUD dan TPA. Sejenak terlihat mereka disibukkan oleh rutinitas mereka dalam bekerja. Sedangkan kegiatan kemasyarakatan jika tidak disuruh mereka tidak mengerjakannya seperti PAUD dan TPA. Pada hal Tim kualitatif mencoba medalami pada beberapa orang orang dewasa di Jambo (Balee) dengan seorang kakek dan cucunya. Nenek iyem 80 tahun yang tidak begitu paseh berbahasa indonesia menyebut sebagai berikut:

Iyem 80 tahun sambil duduk di Balai dan tidak ingin di foto, namun kami juga sempat memotretnya. Bu Iyem menuturkan. Ia datang ke Langsa sekitar tahun 50 bersama suaminya. Setelah kematian suaminya ia tidak lagi pulang ke Yogya. Dulu sangat sedikit orang disini. Saat ini ia tinggal bersama anaknya dan cucunya. Cucu Iyem, 23 tahun berpendidikan sarjana Agama di Cotkala Langsa menyebutkan: orang di desa Jambo Labu saat ini banyak yang sudah terdidik, ada yang masuk tentara, polisi dan bersekolah sampai sarjana. Dan desa Jabo Labu walaupun terpencil namun tingkat kecerdasan masyarakat sudah tinggi.

[embedded content]

Tim Kualitatif mewawancarai masyarakat desa Birem Kota, Kecamatan, Birem, Bayeun, Aceh Timur. Tim kualitatif delapan orang terpencar guna efektifnya kerja. Pak Rani, Anggota Tim,  mewawancara suami sekdes desa Birem Kota, Sanusi. Sanusi menuturkan sebagai berikut: Sanusi sebagai seorang suami sangat senang isterinya berkecimpung dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, terutama sebagai sekdes. Isterinya Novita Anggraini mulai sekdes pada tahun 2006.

Tim mencoba mendalami wawancara sambil suaminya memberikan makanan lembu di Kandang lembu. Suaminya selain mendukung kegiatan isterimanya baik waktu malam maupun siang. Jika ada rapat diwaktu malam di Meunasah,, Pak Sanusi selalu setia mendampingi isterinya guna tidak terjadi fitnah guncingan dalam masyarakat. Menurutnya sampai saat ini kegiatan administrasi desa berjalan sebagaimana yang diharapkan. Ketika Tim pergi ke rumah Ibu Sekdes, ibu Sekdes sudah pergi ke Langsa membeli bekal berbuka puasa dan kebutuhan lebaran.

Menurut Sanusi kegiatan Posyandu saat ini berjalan sebagaimana yang diharapkan. Akan tetapi pasilitas Posyandu yang belum memadai dan kegiatan serta kesadaran masyarakat belum menyeluruh serta pemahaman masyarakat terhadap posyandu belum memadai. Namun kegiatan berjalan. Jika ditelusuri perempuan di desa Birem Kota sangat menentukan. Fenomena tersebut dengan adanya seorang Sekdes dari perempuan. Dan kegiatan di desa juga berjalan sebagaimana yang diharapkan. Di samping itu menurut Pak said pendamping Kami dari Kantor Camat menyebutkan ada seorang Geusyik di Kecamatan Birem Bayeun dari seorang Perempuan. Hhmmm… luar biasa !

FGD di Kecamatan Julok Aceh Timur. FGD di Julok. Aceh Timur dilaksanakan di Kantor Camat setempat tangg 20 Agustus 2010. FGD di Julok dimulai pukul 9.30 wib dibuka oleh sekcam. Kegiatan FGD dihadiri oleh unsur terkait diantaranya yang mewakili, Pendidikan, bidang sosial, bidang kebidanan, dan lain-lainnya. Kegiatan FGD berlangsung meriah. Koordinator Bidan di Kecamatan menyebutkan :

Kegiatan Posyandu berjalan. Namun Posyandu Plus yang dibangun oleh Unicef jauh lebih baik, karena pasilitas gedung sudah bagus, sehingga masyarakat bersemangat. Namun ada juga Posyandu yang bukan binaan Unicef juga berjalan sebagaimana yang diharapkan. Jika menurut Koordinator Bidan sosialisasi yang dipraktekkan adalah melalui mulut ke mulut. Ketika disinggung tentang Pokjanal mereka satu dari anggota FGD tidak tahu-menahu apa artinya Pokjanal. Namun demikian ketika disebutkan mereka menyebutkan Posyandu mereka pahami saat ini adalah masalah kesehatan ibu dan bayi. Sehubungan dengan Posyandu Plus yang mewakili bidang sosial menyebutkan : Saat ini ada petugas sukarelawan setiap desa yang telah dilatih sekedarnya.

[embedded content]

Namun mereka tidak mempunyai gaji. Akan tetapi pada masa akan datang maunya tenaga sukarela harus ada 1 kampung 1 orang guna dapat mengurangi resiko sosial. Oleh karena itu ia mengharapkan, nantinya di Posyandu Plus ada pelayanan sosial seperti pelayanan terhadap manula dan anak-anak terlantar. Ia menambah mau masa datang Psyandu adalah 1 payung dalam melayani masyarakat. Misalnya adanya pelayanan, kesehatan, TPA, penyuluhan Masyarakat, dan penanggulangan masalah sosial dalam masyarakat.

Menjelang FGD berakhir Ibu Niken dari unicef sempat berdialog dan berdiskusi dengan anggota FGD. Ia menyebutkan siapakah yang sangat dihormati, dalam masyarakat. Ada yang menyebutkan imum dan orangf-orang terdidik. Namun demikian FGD yang berlangsung di Kecamatan Julok dapat terlihat koordinasi tingkat Kecamatan dan desa lebih bagus. Fenomena tersebut terlihat dari koordinasi antara petugas dari Kantor Camat dan desa terlihat sangat bagus.

CATATAN ; INI HASIL WAWANCARA, BELUM DIANALISIS, MAKA SELANJUTNYA TUGAS PENELITI UNTUK MENULIS DAN MENGANALISIS.

[embedded content]

TRANSKRIP WAWANCARA (Deep Interview)

Desa : Birem Rayeuk (Posyandu Non Plus) Kecamatan : Birem Bayeuen Kabupaten : Aceh Timur Responden : Halimatussakdiah, 20 Th (Kader Posyandu Aktif) Pewawancara : dr. TM Yus/Dr. TM Waktu Pelaksanaan : Tgl 29 Agust —-/Pukul : 14:30 WIB

Pada saat wawancara, responden yang belum menikah datang ke rumah dinas bidan desa. Saat itu duduk santai diatas tikar. Ada dua kader lain yang hadir yaitu Dwi Retno (21 Th) yang juga sedang kuliah di salah satu universitas di kota Langsa. Bidan desa yang baru 2 tahun bertugas di desa tersebut juga ada saat itu. Para kader tampak antusias dan bersemangat juga sangat ramah menyambut pewawancara. Menurut responden kader di posyandu gampong Birem Rayeuk ada 6 orang karena sesuai dengan jumlah dusun di desa tersebut. Setiap dusun 1 kader. Semua kader aktif. Selama ini kader mendapat honor sebesar Rp. 5000/bulan yang bersumber dari puskesmas. Namun walupun honor tidak seberapa tetapi kader ikhlas demi kesehatan anak-anak di lingkungannya. Melihat kegiatan posyandu, gampong Birem Rayeuk menemui sedikit banyak kendala, yaitu beberapa orangtua (suami) tidak setuju anaknya dibawa ke posyandu karena dianggap tidak penting, bahkan mereka mengatakan bahwa ada anak yang diimunisasi justru sakit, dan ada yang demam setelah imunisasi.

Bidan desa dan kader sudah mencoba melakukan penyuluhan tetapi tetap tidak diperdulikan. Umumnya orang tua yang menolak tersebut berpendidikan rendah dan berprofesi sebagai pelaut. Sebagian besar masyarakat mau ikut posyandu, tetapi setiap ikut minta makanan tambahan, jika tidak mereka mengeluh bahwa capek-capek datang tp tidak dapat apa-apa. Sementara untuk penyediaan makanan tambahan disediakan oleh puskesmas, tetapi sudah 5 bulan ini tidak ada sehingga bidan harus menggunakan uang pribadi untuk membeli makanan yang mencapar Rp. 80.000/bulan.

Sebagian orang tua yang menolak ke posyandu setelah diberikan penyuluhan dan ditawarkan tanpa disuntuik maka mereka mau ke posyandu untuk timbang BB saja. Namun secara keseluruhan kader dan bidan menganggap bahwa kegiatan posyandu sudah jauh lebih baik dibandingkan 2 tahun yang lalu walaupun dalam pelaksanaan hanya 3 meja (dari 5 seharusnya). Pelayanan yang diberikan di posyandu Birem Rayeuk selama ini adalah meliputi imunisasi, timbang BB, Usila (lansia), KB (umumnya pil dan suntik, kondom sangat jarang), dan pemeriksaan ibu hamil. Untuk obat KB, sering bidan harus menyediakan obat sendiri karena terbatasnya obat yang diberikan BKKBN/Puskesmas, sehingga bidan harus mengutip bayaran dari peserta KB. Dalam pelaksanaan posyandu, tidak pernah ada bapak-bapak yang mengantar anak ke posyandu, entah kenapa demikian.

[embedded content]

Kader berharap, honor dapat lebih ditingkatkan sekitar Rp. 25.000-50.000 perbulan, walaupun hanya kegiatan 1 kali perbulan, tetapi mereka harus melakukan sosialisasi sebelum kegiatan dan membuat laporan setelah kegiatan yang akan diserahkan oleh bidan ke puskesmas. Selain itu kader juga berharap Dokter Puskesmas bisa turus sesekali mengikuti kegiatan posyandu, karena beberapa kali Dokter datang masyarakat mau hadir semua dan sangat antusias.

Di gampong Birem rayek, geuchik, imum menasah, dan ibu Geuchik adalah orang yang berpengaruh dan didengar masyarakat. Sehingga mereka perlu lebih diajak untuk terlibat, walaupun pernah bidan mengeluh kepada Geuchik, tetapi jawabannya malah disuruh sabar karena memang masyarakat seperti itu dan semua keras kepala karena pelaut. Kader pernah mendapatkan pelatihan kader yang dilaksanakan oleh Unicef. Tidak ada bantuan dana apapun selama ini dari desa atau lembaga lain untuk posyandu, sedangnkan mengutip iuran sukareka dari masyarakat juga sangat suli dan tidak bersedia. PAUD tidak ada di desa Birem rayeuk.

[embedded content]

NOTULENSI FGD KABUPATEN Hari/tanggal : Senin/30 Agustus —– Pukul : 10:00 s/d selesai Tempat : Aula Kantor Camat Idi Rayeuk

Peserta : 1. Tim Survey Kwalitatif (4 orang) 2. Ahmad Soleh, S.Sos (Pj. Kepala Puskesmas) 3. Abdul Hadi (Kasi Pemerintahan) 4. Nursyarifah Zahara (PKK) 5. Ainunnain (Bidan Koordinator) 6. Budiman (PLKB) 7. Zulkarnain Is (MPU Kecamatan) 8. Fatriah (Ahli Madya Gizi) 9. Ilyas (Serikat Pekerja)

Bidan Koordinator sering membicarakan tentang posyandu, tetapi tidak dibicarakan pada forum lebih tinggi. Koordinasi di desa dilakukan bidan hanya ditingkat desa dengan Teungku imum, Geuchik, tetapi umumnya tidak ada rasa tertarik untuk ikut memperhatikan posyandu. Setiap ada kegiatan posyandu yang datang hanya ibu-ibu.

Kebanyakan posyandu masih dilaksanakan di menasah, sehingga pelayanan 5 meja tidak dapat terlaksana, sehingga ini juga berpengaruh terhadap minat masyarakat terhadap posyandu. Kader posyandu minimal 2 orang perdesa dan mendapat honor Rp. 15.000/orang/bulan yang bersumber dari dana Jamkesmas.

Harapannya kader bisa diberi honor sekitar Rp. 50.000/bulan. Wakil MPU tidak mengetahui apa itu posyandu, hanya tahu bahwa itu untuk bayi. Selama ini tidak pernah ada hubungan antara posyandu dengan MPU, kecuali baru-baru ini mengenai PAUD ada informasi tingkat kabupaten. Selain itu yang ada bidan umumkan posyandu di menasah untuk bawa anak-anak ke posyandu. Sebenarnya kami ingin terlibat. Sementara program KB yang terlibat setiap tahun darai kabupaten.

Dana ADG di Gampong kami dipergunakan untuk kegiatan pembangunan, PKK, pendidikan, karang taruna, kader PNPM, dan lain-lain. Porsi untuk PKK sekitar Rp. 1.200.000,-/tahun dari besar dana Rp. 150.000.000,-. Tetapi pemanfaatan dana bagi PKK lebih untuk membeli peralatan makan Gampong. Untuk tim pembina posyandu, mungkin perlu ditentukan siapa yang menjadi pemimpin. Istilah Pokjanal pernah kami dengar tetapi tidak mengerti.

[embedded content]

Dalam musyawarah kecamatan masalah posyandu tidak pernah disinggung. Di kecamatan Idi Rayeuk terdapat 48 Gampong, 56 posyandu, 2 yang plus. Asumsi masyarakat, bahwa setiap ke posyandu pasti mendapat makanan, sehingga karena beberapa bulan ini tidak ada dana dari puskesmas maka makanan tambahan tidak ada, sehingga jumlah pengunjung posyandu menurun. Mengutip iuran dari masyarakat tidak mungkin, karena banyak yang miskin, dan yang gratispun susah. Ini karena masyarakat belum mengetahui betul apa itu manfaat posyandu.

Sehingga saat ada kegiatan posyandu banyak ibu yang mengaku sibuk sehingga tidak sempat pergi. Mungkin sebaiknya program ini dikelola seperti pada masa pak Suharto, dari pusat semua program dirancang dan berjalan sampai ke desa, dana jelas tersedia. Tetapi program terhenti saat pak Suharto turun, sehingga yang perlu diupayakan adalah posyandu bisa dipikirkan pengembangan oleh masyarakat. Tetapi bagusnya dulu ada penekanan kepada camat dan bupati untuk memperhatikan. posyandu.

Untuk itu sebaiknya sekarang kita carikan cara membentuk tim yang berpikir tentang posyandu yang meliputi tingkat kabupaten sampai kecamatan dan desa. Kemudian mungkin perlu difasilitasi tingkat kabupaten yaitu Bupati, DPRK untuk juga memperhatikan posyandu.

Pada musyawarah Gampong, seharusnya masalah posyandu dibicarakan, tetapi kenyataannya tidak, seharusnya ulama (Teungku) menyerukan untuk memperhatikan posyandu, karena mereka adalah pihak yang paling didengar atau berpengaruh di masyarakat.

Posyandu seharusnya dikelola oleh perangkat desa supaya lebih berjalan. Selama ini koordinasi di desa hanya dengan kepala lingkungan dan ibu Geuchik. Selama ini ada program BKB (Bina Keluarga Balita) yang selama ini dilakukan secara swadaya.

Mungkin sebaiknya kita perlu upayakan bahwa ada sumber dana yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan posyandu, jika tidak mungkin akan sulit jika mengandalkan swadaya masyarakat. Mungkin perlu lebh dilibatkan Geuchik dan perangkat desa lain untuk sosialisasi pentingnya posyandu, supaya mayarakat mulai paham dan merasa penting terhadap posyandu dan mau menyumbangkan iuran sukarela untuk pelaksanaan posyandu.

[embedded content]

NOTULENSI FGD KABUPATEN Hari/tanggal : Kamis/26 Agustus —– Pukul : 09:00 s/d selesai Tempat : Gedung BKM Kab. Aceh Timur (P2TP2A), Idi

Peserta : 1. Tim Survey Kwalitatif (8 orang) 2. Jamaluddin (Kepala BKM) 3. Asokawardani (Ka Bid Yankes dan P2PL) 4. Dinas Sosial 5. Zamhir (Dinas Perhubungan dan PDAM) 6. Ny. Kisnah (PKK 7. Kanwil Dep Agama 8. Dinas Pendidikan 9. Abdul Hasan (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan) 10. Bappeda 11. Tokoh Agama 12. Tokoh Adat

Jamaluddin Posyandu adalah milik kita bersama, sehingga semua pihak harus memperhatikan. Selama ini mungkin pemahaman kita bahwa posyandu hanya untuk balita, padahal banyak kegiatan dan manfaat lainnyaqa sepertin PAUD dan TPA yang juga bisa dilaksanakan. Saya juga mendengar ada kegiatan untuk lansia (lanjut usia). Mungkin persepsi masyarakat masih untuk balita saja. Untuk pengembangan posyandu selama ini belum ada pos dana yang jelas, tidak ada alokasi dana BKM untuk itu.

Mungkin ada melalui BKKBN yang juga disalurkan melalui petugas KB di gampong. Mungkin dengan banyak pihak yang hadir hari ini maka akan ada sinergi untuk rencana alokasi dana bagi posyandu kedepan.

Zamhir AR Selama pengamatan kami sebagai masyarakat, posyandu di desa kami kurang berjalan dengan baik. Padahal masyarakat sangat butuh untuk melayani kesehatan balita. Posyandu yang telah dibangun oleh Unicef malah sekarang tidak dipergunakan untuk posyandu, hanya kegiatan PAUD yang menempati gedung tersebut.

Pasalnya karena bidan yang tidak mau tinggal di posyandu karena ada masalah keamanan. Selain itu juga ada sedikit sengketa mengenai lahan bangunan tersebut. Sekarang bidan entah tinggal dimana. Bidan tersebut sebenarnya baik dan melayani masyarakat sebelum ada posyandu baru, dan mungkin bidan tidak mau lagi tinggl di desa karena merasa tertekan dan terancam.

[embedded content]

Ny. Kisnah Banyak masalah mengenai pelaksanaan posyandu, yaitu diantaranya kader yang berpendidikan rendah. Masyarakat yang berpendidikan tinggi biasanya ada kesibukan sehingga tidak bersedia menjadi kader. Selain itu beberapa obat-obatan dan alat dan obat KB yang disediakan di posyandu merupakan bantuan, sehingga banyak yang terlihat asing dan tidak sesuai.

Masyarakat merasa takut mengkonsumsi sehingga posyandu kurang berjalan. Untuk program PAUD, sosialisasi sudah dilaksanakan, tetapi respon masih kurang baik. Untuk mengupayakan swadaya masyarakat untuk pengembangan posyandu agak sulit karena masyarakat tidak sepenuhnya mengerti dan kebanyakan dari ekonomi kurang mampu.

Mungkin bisa diupayakan alokasi dana ADG untuk kegiatan posyandu. Pada beberapa kejadian, untuk mengalokasikan ADG menemui hambatan berupa perbedaan pandangan antara Geuchik dengan Ibu Geuchik, baik itu menyangkut jumlah dana dan pertanggung jawaban atau penggunaannya.

Hal ini ditambah lagi dengan kuota kehadiran perempuan p[ada rapat gampong sangat sedikit, paling hanya 2 orang. Sehingga kebijaksanaan pengelolaan dana ADG tidak teralokasikan untuk posyandu. Kader posyandu juga perlu diperhatikan, jasa honor sekarang yang sekitar Rp. 9000/bulan bisa ditingkatkan sampai sekitar Rp. 10.000/bulan.

Cut Any (Dinas Sosial) Dari kegiatan survey ini, apa yang akan dihasilkan nantinya?, atau Rencana Tindak Lanjutnya (RTL)?, sebagai pesaerta KB, kami harap sosialisasi dapat lebih ditingkatkan dan lebih mengena, karena saat ini sosialisasi hanya berupa jargon yang megah tetapi masyarakan tidak paham. Kemudian sering kami dengar bahwa obat bantuan yang ada di posyandu banyak yang kadaluarsa sehingga masyarakat jadi malas ke posyandu.

Pernah bahkan ada masyarakat yang di suntik di posyandu menjadi infeksi dan bengkak, mungkin karena obat yang kadaluarsa. Untuk obat/alat B, juga kadang alat yang diberikan tidak sesuai, seperti kondom yang ukurannya besar (standar eropa) sehingga tidak bisa digunakan.

Askowardani Posyandu yang dibangun semuanya berada dekat dengan masyarakat, seperti di gampong Rambung yang dibangun dekat mesjid dan pante Labu yang dibangun antara dusun supaya bisa terjangkau semua dusun di gampong tersebut. Mungkin ada masyarakat yang menganggap jauh. Kemudian tenaga bidan desa umumnya nberpendidikan D-1 dan belum dilatih dengan cukup atau sekolah lagi ke jenjang D-3 atu D-4.

Selain itu posyandu selalu dianggap sebagai milik dinas kesehatan, sehingga instansi lain tidak peduli seperti BKM dan lain lain. Padahal butuh sosilaisasi untuk kerjasama peningkatan pelayanan posyandu. Untuk memajukan posyandu perlu kebijaksanaan yang jelas dari pemerintah daerah, dalam hal ini Bupati dan DPRK, sehingga saat ada usulan dana pengembangan posyandu dapat didukung dan tidak dicoret oleh Bappeda.

Untuk pengembangan pasti butuh dana. Saat ini tidak ada dana dari dinas kesehatan khusus untuk pengembangan posyandu, hanya berupa bahan makanan (gizi) yang disalurkan melalui puskesmas dan obat-obatan serta alat KB. Tidak ada dana khusus untuk posyandu.

[embedded content]

TRANSKRIP WAWANCARA (Deep Interview) Desa : Tanjung Kapai (Posyandu Plus) Kecamatan : Idi Rayeuk Kabupaten : Aceh Timur Responden : Ibu Afni (Ibu balita yang rajin ke posyandu) Pewawancara : DR. TM Jamil dan dr. TM Yus Waktu Pelaksanaan : Tgl 27 Agust —–/Pukul : 09:35 WIB

Pada saat wawancara, ibu Afni sedang menggendong anak yang berusia sekitar 1 tahun dan berada di teras/halaman rumah ibu Murni yang tidak lain adalah tetangganya. Saat itu ada 3 orag ibu balita, yaitu ibu Afni(40 th), ibu Murni (35 Th), dan ibu Mariani(26 Th). Rumah ibu Afni berada sekitar 25 meter dari rumah ibu Mariani, dan ibu Murni berada sekitar 15 meter dari rumah ibu Afni . Ibu-ibu tersebut merasa antusias dan bersemangat juga sangat ramah menyambut pewawancara.

[embedded content]

Menurut ibu Afni yang rajin membawa anaknya ke posyandu, bahwa saat ini posyandu tetap berjalan, tetapi beberapa minggu ini tidak ada kegiatan, mungkin selama bulan puasa tidak berjalan. Tetapi kegiatan berlansung di posyandu menasah, bukan pada bangunan posyandu baru, saya tidak tahu kenapa.

Yang kami tahu kegiatan kesehatan, seperti catat (catat dan timbang BB), tetes mulut (vaksin folio dan viatamin A), makanan tambahan. Kemudian PAUD juga ada sekarang, tetapi itu sudah pindah ke bangunan baru.

Menurut ibu Afni makanan tambahan yang diberikan di posyandu adalah sering kue biskuat saat ini, dulu diberikan bubur kacang hijau, sup ayam dan makanan lainnya. Berhubung sekarang hanya diberikan biskuat (sejenis roti biskuit), banyak anak yang mencret setelah diberikan biskuit.

Ibu Afni tidak mengerti kenapa tidak ada lagi makanan tambahan lain. Ibu afni selalu membawa anaknya ke Posyandu, kecuali selama bulan puasa ini karena tidak ada kegiatan posyandu.

Kegiatan Posyandu selama ini dilaksanakan di Menasah, sedangkan gedung baru yang lebih besar dan lengkap belum digunakan, menurutnya karena bidan tidak masuk/tinggal di posyandu tersebut. Bidan mulai tidak tinggal di posyandu sejak bangunan baru diserahkan, padahal bidan menikah dengan penduduk desa Tanjung Kapai, namun sekarang tidak tinggal lagi di posyandu.

Ibu Afni berharap posyandu dapat diaktifkan seperti dulu lagi di gedung yang baru, sehingga jika ada anak yang sakit seperti mencret dapat segera tertolong, tidak perlu jauh dibwa ke rumah sakit.

[embedded content]

Ketika ditanyakan mengapa bidan tidak tinggal lagi di posyandu, ibu Afni mengaku tidak tahu, “tanya kader saja”, katanya. Beliau juga mengatakan bahwa bidan mungkin ada masalah dengan anak muda kampung, mungkin diminta uang tidak diberikan, tapi ibu Afni mengaku tidak tahu pasti.

Pada pelaksanaan posyandu selama ini tidak ada iuran atau sumbangan yang diminta oleh kader/bidan baik dari ibu-ibu balita atau masyarakat lain. Suami atau umumnya bapak-bapak di kampung ini juga mau mendukung kegiatan posyandu, meskipun yang mengantar ke posyandu umumnya ibu-ibu, hal ini berhubung bapak-bapak berprofesi sebagai pelaut, sehingga saat kegiatan posyandu sering tidak berada di rumah.

[embedded content]

Catatan : Tugas PENELITI Berikutnya, Menulis Laporan Penelitian. Disamping Transkrip Hasil Wawancara ini juga telah dilakukan Rekaman via Tape Recorder. INI SEMUA MASIH “DATA MENTAH” — BELUM DIANALISIS/DITULIS OLEH PENELITI.

 

 

Bagikan ini:Menyukai ini:

Suka Memuat...

Contoh Transkrip Wawancara Skripsi | Contoh Soal Dan Materi Pelajaran 8

Transkrip Wawancara Skripsi : transkrip, wawancara, skripsi, Contoh, Transkrip, Wawancara, Skripsi, Materi, Pelajaran

TRANSKRIP WAWANCARA Kode : 01/W

Transkrip Wawancara Skripsi : transkrip, wawancara, skripsi, TRANSKRIP, WAWANCARA

Contoh Wawancara Skripsi | Contoh Soal Dan Materi Pelajaran 8

Transkrip Wawancara Skripsi : transkrip, wawancara, skripsi, Contoh, Wawancara, Skripsi, Materi, Pelajaran

PDF) Transkrip Wawancara | Gede Arnawa Riana - Academia.edu

Transkrip Wawancara Skripsi : transkrip, wawancara, skripsi, Transkrip, Wawancara, Arnawa, Riana, Academia.edu

DOC) Transkrip Wawancara Mahasiswa Udayana | Tri Adnyana - Academia.edu

Transkrip Wawancara Skripsi : transkrip, wawancara, skripsi, Transkrip, Wawancara, Mahasiswa, Udayana, Adnyana, Academia.edu

Transkrip WAWANCARA

Transkrip Wawancara Skripsi : transkrip, wawancara, skripsi, Transkrip, WAWANCARA

LAMPIRAN L.1 Transkrip Wawancara Mendalam (In-Dept Interview) Pengelola Usaha Restoran

Transkrip Wawancara Skripsi : transkrip, wawancara, skripsi, LAMPIRAN, Transkrip, Wawancara, Mendalam, (In-Dept, Interview), Pengelola, Usaha, Restoran

Cara Wawancara Skripsi - Contoh Surat

Transkrip Wawancara Skripsi : transkrip, wawancara, skripsi, Wawancara, Skripsi, Contoh, Surat

Contoh Transkrip Wawancara Skripsi | Contoh Soal Pelajaran Puisi Dan Pidato Populer

Transkrip Wawancara Skripsi : transkrip, wawancara, skripsi, Contoh, Transkrip, Wawancara, Skripsi, Pelajaran, Puisi, Pidato, Populer

UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA) FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI SKRIPSI STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN ONLINE SHOP OneFourThre

Transkrip Wawancara Skripsi : transkrip, wawancara, skripsi, UNIVERSITAS, PROF., MOESTOPO, (BERAGAMA), FAKULTAS, KOMUNIKASI, SKRIPSI, STRATEGI, PEMASARAN, ONLINE, OneFourThre

Cara Mengerjakan Wawancara – IlmuSosial.id

Transkrip Wawancara Skripsi : transkrip, wawancara, skripsi, Mengerjakan, Wawancara, IlmuSosial.id